Ada kabar baik dari perjalanan film Murdijati Gardjito. Pada 19 September 2026, film produksi Pehagengsi ini berhasil melewati tahap kedua seleksi Festival Film Indonesia (FFI) 2026 bersama 13 film dokumenter pendek lainnya. Hampir sebulan kemudian, tepatnya pada 12 Oktober 2026, Murdijati Gardjito diumumkan sebagai salah satu nominasi kategori Dokumenter Pendek Terbaik FFI 2026.
Ini menjadi pengalaman pertama bagi film produksi Pehagengsi untuk sampai ke tahap nominasi FFI. Sebuah pencapaian yang tentu kami syukuri, sekaligus menjadi kesempatan untuk kembali melihat perjalanan film ini sejak pertama kali diproduksi hingga hari ini.
Sebelum sampai pada kabar nominasi, Murdijati Gardjito yang digagas dan disutradarai oleh Hindra Setya Rini ini telah lebih dulu menjalani perjalanan yang cukup panjang. Film ini dirilis pada 21 Agustus 2023 melalui sebuah rangkaian kegiatan yang tidak hanya menghadirkan pemutaran film, tetapi juga pameran arsip buku-buku tentang pangan nusantara karya Murdijati Gardjito dan bincang pangan. Rangkaian tersebut berlangsung selama dua hari, 21–22 Agustus 2023, dengan empat kali pemutaran di Bioskop Sonobudoyo dan pameran serta diskusi di Kelas Pagi Yogyakarta.
Bagi kami, mempertemukan film dengan arsip, resep keluarga, pengalaman mengecap rasa dalam percakapan bersama yang hangat dengan menikmati kudapan menjadi bagian penting dari cara memperkenalkan sosok Murdijati Gardjito. Ada pengetahuan yang tersimpan dalam tulisan, dokumentasi, mengurai pengalaman bersama, serta percakapan yang bisa terus dibuka dan dibagikan.
Dari layar ke layar, dari kota ke kota
Setelah rangkaian pemutaran perdana, perjalanan Murdijati Gardjito tidak berhenti di Yogyakarta. Melalui program distribusi mandiri #TurDalamNegeriPehagengsi, film ini terus dibawa bertemu dengan ruang-ruang pemutaran dan penonton di berbagai kota, di antaranya Yogyakarta, Bandung, Malang, Jakarta, dan Jambi.
Bagi Pehagengsi, distribusi bukan sekadar urusan memperpanjang daftar pemutaran atau menambah jumlah penonton. Ada upaya untuk memperpanjang energi sinema, mempertemukan karya dengan komunitas, dan membuka kemungkinan percakapan baru di setiap tempat yang disinggahi.
Kami percaya sebuah film tidak selesai ketika proses produksinya rampung atau ketika pemutaran perdananya berakhir. Film bisa terus hidup melalui pertemuan, tanggapan, pertanyaan, ingatan pengalaman, bahkan perbedaan cara pandang dari orang-orang yang menontonnya. Dalam perjalanan itulah, modal sosial dapat tumbuh menjadi modal kultural yang nilainya tidak selalu bisa diukur melalui angka.
Perjalanan Murdijati Gardjito sampai ke nominasi FFI 2026 menjadi salah satu babak baru dari proses tersebut. Namun, sebelum sampai di sini, ada perjalanan kreatif yang juga menarik untuk ditengok: perjalanan Hindra Setya Rini, sutradara film ini.
Hindra Setya Rini: perjalanan yang tidak selalu bergerak lurus
Ketertarikan Hindra pada film sebagai eksibitor film anak-anak untuk penonton anak-anak bermula sekitar 2012 ketika ia menginisiasi Bioscil (Bioskop Kecil), sebuah ruang yang menjadi salah satu pintu masuknya untuk berkenalan lebih dekat dengan dunia sinema. Sebelum bersinggungan dengan film, Hindra juga memiliki pengalaman di bidang teater dan kepenulisan. Ia pernah menjadi aktor di Teater Garasi serta terlibat sebagai inisiator dan fasilitator lokakarya bagi pelajar di sejumlah SMA di Yogyakarta. Pengalamannya kemudian berkembang ke ranah fotografi, Hindra mempelajari fotografi di Kelas Pagi Yogyakarta. Dalam medium fotografi, Hindra cenderung bekerja pada isu-isu yang terkait dengan pangan dan kenangan kolektif pada suatu masa, karyanya "Memori Pandemi" telah berpameran di beberapa festival budaya dan seni baik regional maupun nasional.
Pada 2014, Hindra mulai mengerjakan Rumah Bitha, film fiksi pendek yang proses pembuatannya memakan waktu hampir enam tahun. Bukan karena cerita yang tak kunjung selesai, melainkan karena proses pascaproduksi sempat terhenti akibat keterbatasan biaya. Perjalanan film ini baru menemukan jalan kembali pada 2020 melalui program Ketemu Selasa di JAFF yang diinisiasi Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF), serta dukungan pascaproduksi dari Super 8mm Jakarta. Dalam prosesnya, ada Ipunk Video Robber sebagai koordinator, Damar Adi, dan Fajar K. Efendi sebagai editor yang turut membantu film ini menemukan bentuk akhirnya.
Setelah melalui perjalanan tersebut, Rumah Bitha kemudian mendapat kesempatan bertemu penonton melalui program Bulan Film Nasional yang diinisiasi Kineforum. Sebelumnya, Hindra juga mengerjakan Kacang dan Lanjaran (2015), film yang mengisahkan hubungan asmara yang berkelindan dengan warisan keluarga melalui aktivitas berjualan jamu. Film tersebut diputar dalam Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) 2015. Hindra berkesempatan mengenal proses pembuatan film dokumenter ketika sutradara film dokumenter Shalahuddin Siregar mengajaknya terlibat sebagai asisten ketika mewawancari dua keluarga Negeri di Bawah Kabut (2014) dan Pelem Ukelele (2015) sebagai asisten produksi.
Di sisi lain, ada satu hal menarik dari perjalanan Hindra dan Bioscil. Sekitar tujuh tahun bersama Bioscil, perjalanan Bioscil diangkat menjadi sebuah film dokumenter oleh Lukas Deni dan Emmanuel Kurniawan yang memperoleh dukungan produksi dari Eagle Awards pada 2018. Pada 2019, selanjutnya tim Bioscil juga mendapat undangan untuk hadir dalam program Kick Andy Show melalui episode Dua Hati yang Berbagi.
Pengalaman-pengalaman tersebut menjadi bagian dari perjalanan kreatif Hindra dalam karya-karyanya, dan pertemuannya dengan berbagai kemungkinan ruang dan pengetahuan-pengetahuan baru baginya yang bisa lahir dari kerja kolektif. Perjalanan yang tidak selalu bergerak lurus, tetapi terus menemukan jalannya sendiri.
Kini, melalui Murdijati Gardjito, perjalanan itu kembali membawa Hindra dan Pehagengsi ke pertemuan yang lebih luas.
Bertemu lagi di Nomination Week FFI 2026
Perjalanan film ini belum selesai. Setelah diumumkan sebagai nominasi Dokumenter Pendek Terbaik FFI 2026, Murdijati Gardjito akan kembali bertemu penonton melalui Nomination Week FFI 2026.
Nomination Week merupakan rangkaian pemutaran film-film nominasi FFI 2026, termasuk Murdijati Gardjito, yang akan berlangsung di jaringan bioskop CGV di tiga kota: Jakarta, Makassar, dan Mataram.
Buat teman-teman yang berada di kota-kota tersebut, ini kesempatan untuk menyaksikan film-film nominasi FFI 2026 di layar bioskop. Seluruh pemutaran dalam program ini gratis. Silakan periksa jadwal dan informasi pemesanan tiket melalui tautan berikut:
Jadwal dan informasi pemesanan tiket Nomination Week FFI 2026:
- Jakarta: 4 Nov 2026, 15:48 WIB dan 6 Nov 2026, 17:58 WIB
- Makassar: 7 Nov 2026, 15:40 WITA
- Mataram: 8 Nov 2026, 16:40 WITA
Apa pun hasil akhirnya nanti, film ini telah membawa kami sampai ke pertemuan-pertemuan baru. Dari ruang pemutaran kecil, komunitas, kota-kota yang disinggahi, hingga layar bioskop dalam rangkaian Nomination Week FFI 2026. Dan bagi kami, itu cukup menjadi alasan untuk terus berjalan.
Murdijati Gardjito — Nominasi Dokumenter Pendek FFI 2026.
Filmnya masih berjalan. Ceritanya belum selesai.
_________________
Informasi terkait bisa ditelusuri lebih lanjut di daftar link berikut ini:
- Penguman resmi Nominasi Film Dokumenter Pendek Terbaik FFI 2026
- Film "Kacang & Lanjaran"
- Film "Rumah Bitha"
- Bioskop Kecil Keliling (bioscil)
- Website hindrasetyarini.com
_________________
Tentang Pehagengsi
Pehagengsi adalah cultural marketing studio dan kolektif produksi audio-visual asal Yogyakarta. Kami mengolah riset lokal, budaya populer, dan komunitas menjadi karya audio-visual, strategi komunikasi, serta aktivasi kreatif. Layanan kami mencakup produksi film, video, video musik, pengelolaan media sosial, pengembangan strategi komunikasi, hingga program dan aktivasi berbasis riset.
Kami terbuka untuk berkolaborasi dengan brand, institusi, organisasi, maupun komunitas yang ingin membangun komunikasi lebih relevan, kontekstual, dan berdampak.
Punya proyek, kebutuhan komunikasi, atau gagasan yang ingin diwujudkan? Mari membuka ruang kolaborasi dan menciptakan kemungkinan baru bersama Pehagengsi.
Hubungi kami:
Email: emailpeha@gmail.com
Instagram: @pehagengsi
Portofolio selected: click

0 Comments:
Post a Comment