#Pehagengster
Upcoming movie "Wanara and The Last Temple"
#PehagengsterTurDalamNegeri
Visit our new store; PEHAGENGSTORE

PPPEHAAA

princeton-97827_1280

Pantulan dari dan ke luar/dalam diri di sekitar kami / Reflections from and to the outside/inside of ourselves around us

GGGENGGG

san-jose-92464_1280

Tawaran lain dari apa-apa yang sudah ada di pasaran (kerja-kerja inisiatif) / Other offers from what is already on the market (initiative works)

SSSEEE

academic-2769_1280

Pancaragam kepercayaan yang kami sepakati dan percayai / A variety of beliefs that we agree with and believe in

BIOSKOP MUSIK (III) CHERRY DISTRICT

Road to Cherrypop Festival 2026: Bioskop Musik Kembali Lagi!

Oleh: Balma Bahira Adzkia & Rifqi Mansur Maya


Jika film dimaknai hanya sebatas tontonan yang diproduksi secara mewah, besar-besaran, dan bertabur bintang, mungkin tidak akan pernah sampai kepada kita kabar dari  “dunia lain” yang hidup berdampingan dan (justru) jauh lebih realistis dari apa yang tampak di permukaan. Tidak melulu mistis, bisa saja tentang pertemuan ide dan gagasan hebat yang sama-sama membuat merinding. Inilah spirit dari program “Bioskop Musik” garapan Pehagengsi, supergroup yang memercayai kekuatan produksi pengetahuan dengan disiplin audio-visual.


Program pemutaran film musik ini lahir dari kesadaran sederhana: ruang kecil bisa menjadi tempat lahirnya pikiran besar. Di tengah bahasa “ekosistem”, “industri”, dan angka-angka yang sering mendominasi musik hari ini, Bioskop Musik ingin mengajak kita untuk melihat musik sebagai relasi antara musisi, komunitas, ruang, dan proses yang tidak selalu ditampilkan. Film bukan sekadar tontonan, tetapi arsip hidup yang menyimpan percakapan, keraguan, kerja kolektif, dan cara kita membaca ulang skena yang kita hidupi bersama.


Bioskop Musik pertama kali digagas pada tahun 2019 sebagai aktivasi dari kegiatan Toko Pop Up Musik Podomoro yang diselenggarakan oleh Jogja Record Store Club x Kedai Kebun Forum. Sebanyak 10 film musik yang bercerita tentang biografi, kehidupan di balik layar, cerita pertunjukan, hingga pengalaman selama tur di negara lain diputar di Podomoro. From Paris to Paris: Rubah di Selatan Europe Tour (2018), Berdansa Bersama Shaggydog (2013) karya EF Tedjobaskoro, We Are Monster (2012) karya Deveri Dinarto tentang Captain Jack, 100.000 Hari (2018) tentang Jono Terbakar oleh Nihan Lanisy, Inside Your Shoes (2009) karya Ananto Prasetyo dan Bramyantoko tentang grup Risky Summerbee & The Honeythief, Moviemetalithcum (2014) tentang band rockabupaten Sangkakala karya Djati Wowok Pambudi, Dawai (2019) dokumenter bassist Sangkakala beserta penelusuran arsip sejarah kolonialisme oleh Agni Tirta & Aufa R’aisyi, Hiphopdiningrat (2010) karya Marzuki Muhammad dan Chandra Hutagaol, serta Punkasila: The First Indonesian Band in Cuba  (2009) karya Siska Raharja.


Edisi kedua Bioskop Musik berlanjut pada dua tahun setelahnya. Bertempat di Kedai Kopi Kantin (Kelas Pagi Yogyakarta), screening film musik ini dikonsep sebagai kegiatan ngabuburit di tengah-tengah pandemi. Ada 12 film yang diputar dalam Bioskop Musik kedua ini: Musik Underground Jogja Part I (2001) karya Jimmy Mahardhika, Jalur Sutra (2020) oleh Allan Soebakir, Gegas #02: Jelang Rilis Album (2020) oleh Yuka Mahesa dan Farid Stevy, Eva, Kenapa Rumahmu Jauh? (2002) film musik yang dibintangi banyak personil Kornchonk Chaos karya Fredy Predi, Waditya.com, Sugeng Wahyudi, dan Edwin, Jogja Blues Forum (2018) karya Krisna Aditya, 240 BPM++ (2019) tentang dinamika musik orgen tunggal karya Bagas Oktariyan A, It Takes Two (2015) karya Triaji Jati dan Riva Pratama tentang Stars and Rabbit Asian Tour 2015, Efek Rumah Kaca Suddenly Konser (2018) oleh Allan Soebakir, Jogja Noizer (2019) oleh Christian Thomas O, Y-Rama: Yennu Ariendra dan Iramanya (2020) oleh Maria Kilapong, FSTVLST-Tanah Indah Live In Concert (2015) karya Gandos dkk, dan Fortuna (2020) tentang kedekatan DOM 65 dengan PSIM Jogja karya Fauzi Fathurrahman.



Bioskop Musik akan melanjutkan perjalanannya menuju episode ketiga yang berlangsung pada tanggal 28 Februari-7 Maret 2026. Berkolaborasi dengan Rekam Skena, lebih dari 20 submisi film/video dari area Yogyakarta, Jawa Tengah hingga lintasan Pantura akan ditayangkan pada agenda Cherry District: Road to Cherrypop 2026 setiap jam 19:00 - 21:00 WIB gratis dengan registrasi melalui s.id/BioskopMusik2026.


Selang waktu yang cukup panjang antara pelaksanaan Bioskop Musik #2 dan Bioskop Musik #3 tidak mempengaruhi khazanah pengarsipan film musik yang nyatanya semakin kaya dan beragam. Di balik tabir kesetaraan, agrikultur, spiritual pesantren, minimnya ruang publik di tempat asal, hingga kondisi politik negara didokumentasikan dengan jujur dan bernas di film-film yang bisa disaksikan di Hall Zona D (Art Gallery) GIK UGM.


Berikut adalah daftar film Bioskop Musik Pehagengsi x Rekam Skena yang akan ditayangkan:

  1. Raung Gaung (Yogyakarta)

  2. Berjalan di Tengah Persimpangan (Semarang)

  3. Nasida Ria: Sun Stage (Semarang)

  4. Detaksia: Gardenia-Heaven Tour (Banjarnegara)

  5. We Are Monsters (Yogyakarta)

  6. Aksi Mingguan Tour: Biggy X Jojo Nugraha (Cirebon)

  7. Ufuk di Utara (Semarang)

  8. Kesetaraan (Yogyakarta)

  9. Belajar Terbang (Yogyakarta)

  10. Women in Crowd (Yogyakarta)

  11. Side B: Raw Version (Surakarta)

  12. Undergroundkv: The Story of Volume Gigs (Purwokerto)

  13. Ruang Kecil Bersama Merayakan Peristiwa (Yogyakarta)

  14. Sintas (Indramayu)

  15. Lakuran (Cirebon)

  16. Nginang Karo Ngilo (Yogyakarta)

  17. Rasah Wedi Merapal Asma Sang Maha (Yogyakarta)

  18. Fans Club (Yogyakarta)

  19. Nekad: Paketan Tour EP (Jakarta Barat)

  20. Tidak Ada Party di Kabupaten Ini (Banjarnegara)

  21. Daya Bara (Purbalingga)

  22. Ruang Kami: Soetedja (Purwokerto)

  23. Blocked City (Cilacap)



Kami percaya, tetap kecil bukan berarti tidak berdampak. Justru dari skala yang manusiawi, percakapan bisa lebih jujur dan pikiran bisa lebih kritis. Jika setelah menonton ada yang pulang dengan cara pandang baru tentang musik yang bukan hanya sebagai bunyi atau angka streaming, tapi sebagai praktik sosial maka ruang ini sudah bekerja.


Dan jika upaya ini belum berhasil seperti yang dibayangkan, mungkin kita memang sedang diberi waktu untuk gagal sampai habis, agar suatu hari berhasil dengan cara yang lebih sadar dengan berdiri di kaki sendiri.


Narahubung:

081225312899 (Hannisa)


*Unduh Digital Zine Bioskop Musik 2026 di sini.

Festival Komunitas Seni Media (FKSM) 2025 Cirebon


Festival Komunitas Seni Media 2025 Cirebon adalah sebuah perayaan dan forum lintas medium yang membuka ruang bagi seniman, komunitas, dan publik untuk bertemu dan berdialog tentang seni dan kebudayaan hari ini. Tahun ini FKSM dilaksanakan pada 17-23 November 2025 di Kompleks Pelabuhan Cirebon dengan tema “Rentang Lawang”. Sebuah ajakan untuk menelusuri ruang peralihan antara yang terbuka dan tertutup, antara masa lalu dan masa depan, antara bunyi, gambar, dan narasi yang dihadirkan di Cirebon. FKSM 2025 Cirebon diramaikan oleh beberapa program unggulan seperti pameran seni media, pertunjukan, diskusi, lokakarya, penampilan musik, dan lainnya. Acara ini didukung oleh: Kemenkebud, Disbudpar Kota Cirebon dan PT Pelindo. Juga berkolaborasi dengan berbagai komunitas seni, ruang kolektif, dan media lokal/nasional.

Kami mengelola nilai sosial-budaya dan memproduksinya menjadi materi komunikasi dan dokumentasi melalu kanal Instagram @fksm.indonesia untuk terus menyuarakan seni media hari ini dengan cara yang rileks nan musikalTerima kasih kepercayaan dan energi baiknya selama proses movement ini berlangsung. Jangan berhenti sampai di sini dan mari kita lanjutkan!

Cek hasil kerja kami di sini.

Project: Festival Komunitas Seni Media
Time: Mei - November 2025
Pehagengster are Rifqi Mansur Maya, Adam Sudewo, Nugi Maulana, Fathan Mubarak, Sedaya, The Legacy Circle and you!









Tjif Fest 2025 "Bagaikan"

Tjilatjap International Film Festival (Tjif) merupakan festival film yang digelar di Cilacap, Jawa Tengah. Cilacap merupakan sebuah kota pelabuhan yang sedang bertumbuh menjadi episentrum energi kreatif anak muda pesisir selatan. Setelah edisi perdananya berlangsung pada Februari 2025 di Plaza Cilacap, gelaran kedua Tjif berkembang lebih luas dari sekadar ajang pemutaran film menjadi ruang kolaborasi dan ekspresi energi generasi muda Cilacap.

Tantangan utama tahun ini adalah bagaimana menjadikan Tjif bukan hanya perayaan film, tetapi panggung bagi anak muda Cilacap untuk mengaktualisasikan semangat dan kreativitas mereka. Kolaborasi antara Gramedia Cilacap dan Cilacap Kreatif menjadi langkah strategis untuk mempertemukan literasi dan kreativitas dalam satu ruang yang saling menguatkan.


Tahun ini, Politeknik Negeri Cilacap (PNC) dipilih sebagai lokasi utama festival. Di lantai 5 kampus ini, tiga ruang utama dihadirkan:
  • Cinema Space: area pemutaran film dan diskusi,
  • Cinema Library & Poster Exhibition: ruang literasi visual dan arsip sinema,
  • Community Area: zona ekspresi terbuka berisi pameran video dan performance art.
Selama tiga hari, PNC menjelma menjadi titik temu antara dunia akademik, literasi, dan energi muda Cilacap. Melalui dukungan program “Semesta Buku” dari Gramedia Cilacap, serta semangat Cilacap Kreatif dalam merawat ekosistem seni dan media, Tjif 2025 hadir sebagai platform yang menyatukan imajinasi, ekspresi, dan kolaborasi lintas komunitas.

Lebih dari sekadar festival film, Tjif adalah perayaan identitas dan masa depan kreatif Cilacap.


Festival Director: Dismas Panglipur
Project Manager: Rifqi Mansur Maya
Lead Project: Akbar Riyadi

Spesialis Konten: Atika

Videografer & Fotografer: Nurridwan Pangestu &  Inyongpotret
Cilacap Kreatif: Romi, Afrizal, Donni
Set: Angle Decor
Copyright © ALTER\NATIVE | Powered by Blogger
Design by Viva Themes | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com