Creative Producer berbasis di Yogyakarta-Cirebon, bekerja dengan brand & komunitas lintas kota melalui pendekatan storytelling-archive berbasis budaya.
WHAT WE DO
WHERE WE STAND
HOW WE THINK
INITIATIVES
MERCHANDISE

WORK/PROJECT

princeton-97827_1280

Proyek yang kami kembangkan bersama brand, komunitas, dan festival.

APPROACH/THINKING

san-jose-92464_1280

Cara kami membangun cerita melalui film, budaya, dan kolaborasi.

ABOUT/STUDIO

academic-2769_1280

Studio produksi kreatif berbasis storytelling dan arsip budaya.

Setelah Lampu Proyektor Dimatikan (Catatan menuju layar ke 63 Tur Dalam Negeri Pehagengsi di mana pun)

Indonesia tidak kekurangan karya. Setiap hari lahir lagu baru, film baru, festival baru, komunitas baru, dan ribuan unggahan baru. Kita tidak kekurangan konten. Kita kekurangan pertemuan yang benar-benar pertemuan yang terbatas. Terbatas karena kita sudah mengupayakannya untuk fokus. Tidak ngalor-ngidul gak jelas sampai lupa waktu.

Selama beberapa tahun terakhir, melalui Tur Dalam Negeri Pehagengsi, kami berkeliling membawa film-film independen ke berbagai tempat dan kota. Sekilas, yang kami lakukan terlihat sederhana: memutar film lalu ngobrol, tak lupa jualan merch buat bensin. Semakin jauh perjalanan ini berlangsung, semakin kami sadar bahwa film bukanlah tujuan. Film hanyalah alasan geblek kami untuk ketemu orang.
Dan Lampung menjadi salah satu pelajaran penting, di titik ke 62 sejak November 2022 dan jadi tur luar pulau yang saya datangi langsung setelah ke Jambi pada tahun 2023.

Di sana kami bertemu record store kecil yang tetap merawat rilisan lokal, kolektif yang membangun ruang alternatif secara mandiri, festival film yang tumbuh dari kampus DKV, hingga warung yang setiap malam berubah menjadi ruang bertukar gagasan. Pemandangan serupa kami temukan di Purwokerto, Banjarnegara, Purbalingga, Cilacap, Cirebon, dan banyak kota lain.

Semuanya memperlihatkan pola yang sama. Daerah tidak pernah kekurangan energi. Yang selama ini kurang adalah kesempatan agar energi-energi itu saling bertemu. Benar emang estetika ‘nongkrong’ nya teman-teman ruangrupa, kita banget kan ngopi berjam-jam sambil mengurai masalah (curhat colongan). Top!


Foto: Miftahul Rohman dan Wenda Arya Feriyan

Kita terlalu lama menganggap pusat sebagai sumber pengetahuan. Padahal, perjalanan ini memperlihatkan sesuatu yang berbeda: praktik-praktik paling segar justru lahir dari kota-kota yang bekerja dalam keterbatasan. Mereka membangun ruang, mengarsipkan sejarah musiknya sendiri, menyelenggarakan festival, menjaga komunitas, dan menemukan cara bertahan tanpa banyak sorotan.

Ironisnya, disaat energi itu tumbuh, terutama paska pandemi, kita hidup dalam lanskap informasi yang semakin menyempit. Bukan karena informasi sulit ditemukan. Justru karena terlalu banyak. Algoritma menghadirkan apa yang paling mampu mempertahankan perhatian kita, bukan apa yang paling penting bagi perkembangan ekosistem setempat. Kita terus bergerak dari satu unggahan ke unggahan lain, merasa selalu terhubung, padahal perlahan kehilangan hubungan dengan orang-orang yang bekerja di sekitar kita sendiri.

Akibatnya, banyak komunitas di daerah tidak pernah benar-benar kekurangan gagasan. Mereka lebih sering kekurangan kesempatan untuk membagikan gagasan itu, belajar mengkomunikasikannya, membangun jejaring, dan saling bertukar pengalaman dengan daerah lain. Ini bukan soal kemampuan individu. Ini adalah persoalan distribusi pengetahuan. Orang bilang cari ketemu offline ini kunokarena kita bisa terhubung secara online. Bodo amat! Ini cara saya melawan algoritma yang semakin menggiring kita jadi tidak bisa tenang.

Karena pengetahuan tidak bekerja seperti algoritma. Ia tidak tumbuh karena jangkauan. Ia tumbuh karena kepercayaan. Dan kepercayaan hanya lahir melalui perjumpaan. Itulah sebabnya nilai terbesar sebuah pemutaran tidak pernah berada di layar. Ia dimulai ketika lampu proyektor dimatikan. Komunitas bertukar cara mengelola arsip, membangun ruang, menyusun program, mencari dukungan, hingga mempertahankan kolektifnya. Begitu juga disiplin lain, yakin, aku!

Di situlah film berhenti menjadi tontonan dan mulai bekerja sebagai pengetahuan. Mungkin inilah pekerjaan yang paling mendesak hari ini. Bukan memproduksi lebih banyak konten. Melainkan membangun lebih banyak perjumpaan. Bukan memperbanyak panggung. Melainkan memperluas ruang belajar. Bukan menunggu daerah datang ke pusat atau sebaliknya. Melainkan mempertemukan daerah dengan daerah. Lampung tidak harus selalu belajar dari Yogyakarta, dsb. Ketika daerah mulai saling belajar, kita tidak lagi membangun ketergantungan terhadap pusat. Kita sedang membangun jaringan pengetahuan Indonesia.

Inilah yang kami bayangkan melalui Tur Dalam Negeri Pehagengsi. Bukan sekadar tur pemutaran film. Melainkan infrastruktur bergerak untuk mendistribusikan pertukaran pengetahuan antar ekosistem. Film atau disiplin seni lain hanyalah salah satu mediumnya. Percis yang saya lakukan bersama Hindra di Bioscil melalui pemutaran film pendek ke pinggiran Daerah Istimewa Yogyakarta. Yang sesungguhnya kami distribusikan adalah pengalaman, metode, keberanian, dan harapan bahwa setiap daerah memiliki sesuatu untuk dipelajari oleh daerah lain, silang saling. Karena masa depan kita tidak akan dibangun oleh daerah yang berlomba menjadi pusat. Masa depan kita dibangun ketika setiap daerah bersedia menjadi sumber pengetahuan bagi daerah lainnya.

Untuk itu, kami mengajak orang kaya setempat, pemerintah daerah, kampus, lembaga kebudayaan, perusahaan melalui CSR, media, yayasan, dan para pemilik modal untuk mulai mengubah cara berinvestasi. Jangan hanya mendanai acara. Dan jangan hanya mengejar angka kunjungan. Dukunglah perjalanan pengetahuan. Dukunglah forum lintas daerah. Dukunglah residensi, laboratorium, arsip, dan ruang-ruang diskusi yang mempertemukan manusia. Karena tidak semua dampak bisa dihitung dari jumlah penonton. Sebagian dampak lahir dari seseorang yang pulang membawa cara berpikir baru.

Foto: Dok pribadi

Sesekali, tinggalkan layar. Sebab algoritma mungkin mampu mempertemukan kita dengan informasi. Tetapi hanya perjumpaan yang mampu membangun kepercayaan. Dan hanya kepercayaan yang mampu membangun masa depan kita.

Salam,
Rifqi Mansur Maya

*Dari 26 catatan personal di 62 titik layar Tur Dalam Negeri Pehagengsi, minta dirapihin ama chatgpt cuma jadi -+ 3 lembar doang. Canggih emang teknologi. Semoga tidak mengurangi esensi curhat colongan ini, ya.

*Trims, mas Wisnu Wijaya, mas Dwi SDM, Okta Setiawan, Kevin Maulana, Faisal Amin, Agil Darmawan, Rahmat Fadhel, Dedi Amung, mas Deri Teater Satu Lampung, mas Aryo & istri dan semua teman baru. Beruntung saya bisa mengenal kalian semua.

*Untuk dokumentasi arsip kami, silahkan klik link ini atau menuju tab di sisi kanan: PPPEHAAA



Trilogi Totebag Alter Native Pehagengsi

Bersamaan dengan acara Sinema Nongkrong Malam (SINOM) di Ravacana Films semalam, kami merilis 3 totebag sekaligus; The Wavemaker of Cinema is Love, Terbatas-Terabas!, dan Pehagengsi Vertical Illution. Totebag berisi mantra untuk menguatkan keraguanmu.



Item:
  1. Pehagengsi
  2. Alter Native (SOLD)
  3. Terbatas, Terabas!

Spesifikasi:
Bahan Blacu Premium
Ukuran 40x45cm
Bonus stiker jika persediaan masih ada

Format pemesanan:

Harga: 85.000 (blm termasuk ongkos kirim)

Pengiriman menggunakan POS Indonesia

  • Nama lengkap:
  • Alamat lengkap:
  • Desain:
  • Jumlah:
  • No HP/WA aktif:
*Wilayah kota Yogyakarta tetap dikirim, ongkir hanya 8-12 ribu.


#Pehagengstore

Ini bukan sekedar merch. Ini adalah cara kami mengubah ide jadi bahan bakar. Upaya kecil-kecilan kami untuk mengumpulkan modal dari apa yang kami punya: gagasan, strategi, visual, dan sedikit keberanian untuk tetap jalan. Uang yang kamu keluarkan tidak berhenti di merchandise. Ia akan berputar jadi acara, jadi arsip, jadi eksperimen produksi pengetahuan berikutnya. Kalau kamu merasa satu frekuensi, pakai. Kalau tidak, biarkan lewat. Terima kasih sudah (atau akan) jadi bagian dari ekosistem ini.


Open Pre Order "Cinematees 2026" Hari Film Nasional

Bahwa di tengah kondisi yang meremehkan kerja kreatif, kami tetap berdiri, mengarsipkan, dan merawat kerja/karya kami dengan cara sebisanya. Seperti biasanya. Selamat Hari Film Nasional 2026


PO ditutup tanggal 7 April 2026 jam 23:59 WIB dan pengiriman mulai per tanggal 21 April 2026.

  • Kaos: 115.000
  • Tote bag: 85.000


Harga belum termasuk ongkos kirim

Ekspedisi pengiriman menggunakan POS Indonesia


Size:

  • S 47 X 66
  • M 50 x 69
  • L 53 x 72
  • XL 56 x 74
  • 2XL 59 x 76 (+5.000)
  • 3XL 62 x 80 (+10.000)
  • 4XL 65 x 83 (+15.000) (hanya untuk kaos Rukii Naraya)
  • 5XL 68 x 86 (+20.000) (hanya untuk kaos Rukii Naraya)


Pemesanan via WA 081227127473.

FORMAT PEMESANAN:

KOLONI GIGS/RUKII NARAYA/PIRING TIRBING


  • Nama:
  • Alamat lengkap (Jln, Nomor rumah, Kel/Kec/Kab, kode pos):
  • Size:
  • No Hp:
  • Jumlah:

*Wilayah Kota Yogyakarta tetap dikirim, ongkir hanya 8-15 ribu.







Profil Kolaborator:

Piring Tirbing adalah kelompok sinema yang berdiri sejak 2016 di Yogyakarta dan dibentuk atas kesadaran kolektif untuk mengembangkan cara kerja sinema melalui prinsip gotong royong, keterbukaan, dan kemandirian. Menempatkan sinema sebagai ruang pertemuan lintas pengalaman dan pengetahuan, serta sebagai medium yang terus berkembang melalui berbagai bentuk proses kreatif.


Kegiatan Piring Tirbing mencakup produksi film pendek dan eksperimental, riset kecil berbasis komunitas, serta pengembangan karya dalam medium publikasi, pertunjukan, dan kerja artistik. Kelompok ini juga terlibat dalam berbagai ruang percakapan seputar praktik sinema—meliputi proses kreatif, pengalaman produksi, hingga dinamika ekosistem sinema independen—baik melalui kegiatan yang mereka inisiasi maupun melalui kolaborasi dengan komunitas lain di Yogyakarta. Melalui keterlibatan ini, Piring Tirbing mengembangkan cara kerja yang reflektif dan menjadikan dialog sebagai bagian penting dari proses penciptaan.


Karakter lintas disiplin menjadi bagian dari identitas kelompok, terutama melalui kolaborasi dalam jejaring yang kuat dengan komunitas sinema, institusi pendidikan, dan kelompok seni di Yogyakarta, untuk memperluas cara sinema dapat diciptakan, dipresentasikan, dan dibaca kembali. Inisiatif-inisiatif ini menegaskan komitmen Piring Tirbing dalam merawat ekosistem pengetahuan yang tumbuh dari praktik kolektif dan pengalaman sehari-hari. IG: @piringtirbing

Rukii Naraya (Desta) adalah seorang seniman, ilustrator, fotografer, dan art director yang berbasis di Yogyakarta. Karyanya dikenal personal, penuh ekspresi, dan memiliki narasi emosional yang kuat. Ia sering menggunakan fotografi dan ilustrasi dalam karyanya, serta aktif mendokumentasikan keindahan momen melalui berbagai media. IG: @rukiinaraya

Koloni Gigs adalah media musik independen yang berfokus pada dokumentasi, promosi, dan kolaborasi di skena musik lokal. IG: @kolonigigs

Pehagengsi adalah supergrup dengan kemampuan yang 'terbatas', meyakini bahwa produksi pengetahuan adalah kunci utama, Visual-Audio salah satu disiplinnya dan Alter Native adalah semangatnya. Berfokus pada alternatif -pancaragam- bentuk komunikasi pemasaran/periklanan produk terbaikmu. Saat ini sedang memproduksi #OmnibusMusikulinerPantura sembari Tur Dalam Negeri membawa tawaran keberlanjutan sinema dengan cara pay as you wish. IG: @pehagengsi

Tutbek adalah brand yang memandang merchandise sebagai medium ekspresi: sederhana, fungsional, dan penuh cerita. Berdiri sejak 2014–2015 dengan pendekatan seni terapan yang filosofi dan ergonomis, Tutbek menghadirkan produk yang dekat dengan keseharian sekaligus relevan dengan identitas penggunanya. Sejak 2016, melalui Tutbek Faktori, kami mendampingi individu, komunitas, dan brand dalam mewujudkan merchandise impian mereka. Di luar produksi, Tutbek juga aktif membangun ruang berbagi melalui berbagai program kreatif sebagai upaya untuk tumbuh bersama dalam ekosistem seni hari ini. IG: @tutbek


PEHAGENGSI | KOLONI GIGS | RUKII NARAYA | PIRING TIRBING | TUTBEK
FOR HARI FILM NASIONAL 2026 :P
Copyright © Cultural Marketing Studio | Powered by Blogger
Design by Viva Themes | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com