Creative Producer berbasis di Yogyakarta-Cirebon, bekerja dengan brand & komunitas lintas kota melalui pendekatan storytelling-archive berbasis budaya.
WHAT WE DO
WHERE WE STAND
HOW WE THINK
INITIATIVES
MERCHANDISE

WORK/PROJECT

princeton-97827_1280

Proyek yang kami kembangkan bersama brand, komunitas, dan festival.

APPROACH/THINKING

san-jose-92464_1280

Cara kami membangun cerita melalui film, budaya, dan kolaborasi.

ABOUT/STUDIO

academic-2769_1280

Studio produksi kreatif berbasis storytelling dan arsip budaya.

Boss, Jangan Cari Tim Konten. Cari Orang Marketing.

Marketing atau pemasaran bukan dimulai saat membuat konten. Pemasaran dimulai saat sebuah brand memutuskan untuk ada.


Kemarin sore saya bertemu dengan dua orang dari tim marketing sebuah brand sepatu lokal. Awalnya hanya ngobrol santai. Lalu tanpa sengaja kami membahas satu pertanyaan sederhana: Sebenarnya, kapan marketing dimulai?


Banyak owner sebuah merk merasa persoalan pemasaran selesai ketika mereka sudah meng-hire tim konten atau agensi. Lalu Key Performance Indicator (KPI) pun berkutat pada hal-hal seperti:

  • berapa feed yang tayang,

  • berapa caption yang ditulis,

  • berapa stories yang diunggah,

  • berapa reels yang dibuat.


Seolah-olah selama konten terus diproduksi, berarti aktivitas pemasaran sedang berjalan. Di situlah letak masalahnya. Pemasaran bukan pekerjaan membuat konten. Konten hanyalah salah satu alat pemasaran. Pemasaran dimulai jauh sebelum itu. Sejak sebuah brand memutuskan untuk hadir, seharusnya sudah ada jawaban atas pertanyaan-pertanyaan paling mendasar:

  • Masalah apa yang ingin diselesaikan?

  • Siapa yang ingin dilayani?

  • Mengapa brand ini layak ada?

  • Mengapa orang harus memilihnya?


Kalau pertanyaan-pertanyaan itu belum terjawab, sebanyak apapun konten yang diproduksi hanya akan menjadi aktivitas yang sibuk, bukan strategi. Pemasaran bukanlah sebuah departemen. Pemasaran adalah cara sebuah bisnis berpikir. Cara berpikir itu kemudian diterjemahkan menjadi sistem, produk, layanan, pengalaman pelanggan, hingga akhirnya menjadi komunikasi. Konten hanyalah salah satu bahasa untuk menyampaikan cara berpikir tersebut. Karena itu, saya sering melihat banyak brand merasa sudah "punya marketing" hanya karena sudah memiliki tim konten. Padahal yang dibutuhkan sejak awal bukan sekadar orang yang mengerti komunikasi. Yang dibutuhkan adalah orang yang mengerti marketing. Seseorang yang mampu membantu owner menjawab:

  • mengapa brand /usaha ini harus ada,

  • siapa yang ingin dilayani,

  • nilai apa yang ditawarkan,

  • persepsi apa yang ingin dibangun,

  • dan bagaimana semua itu diterjemahkan menjadi strategi.


Setelah fondasi itu jelas, barulah desain, foto, video, copywriting, media sosial, aktivasi, event, hingga iklan bekerja menjalankan strateginya.


Di tengah obrolan, salah satu dari mereka berkata, "Itu dia tugas kami, bikin persepsi dari produk ini lewat bikin konten." Saya mengangguk.


Betul. Karena pada akhirnya, orang memang tidak membeli produk hanya karena spesifikasinya. Mereka membeli persepsi tentang nilai yang akan mereka dapatkan. Namun persepsi yang kuat tidak dibangun oleh konten semata. Persepsi lahir dari kejelasan mengapa sebuah brand hadir, siapa yang dilayaninya, dan perubahan apa yang ingin diciptakannya. Kalau fondasi itu kuat, konten akan menemukan bentuknya sendiri. Saya jadi teringat mantra dari Leo Burnett yang masih saya pakai hingga saat ini.


"Tujuan utama bisnis adalah layanan. Tujuan utama periklanan adalah menjelaskan layanan yang diberikan bisnis."
— Leo Burnett


Artinya, sebelum sibuk memikirkan iklan, media sosial, atau konten, sebuah brand seharusnya lebih dulu memastikan bahwa ia benar-benar memiliki sesuatu yang layak untuk dijelaskan. Mungkin itu sebabnya pertanyaan pertama seorang marketer (orang yang mengerjakan/berkutat dengan tugas pemasaran) bukanlah: "Konten apa yang harus kita buat minggu ini?" Melainkan: "Mengapa brand ini layak dipilih?" baru mikir bikin konten mingguannya.


Kalau sebagai owner atau Head of Marketing diskusi tentang mengapa brand ini ada belum pernah benar-benar terjadi, mungkin yang perlu ditambah bukan jumlah kontennya. Mungkin yang perlu dihadirkan adalah cara berpikir marketing di dalam brand itu sendiri. Karena marketing bukan sekadar soal komunikasi. Marketing adalah cara sebuah bisnis berpikir. Konten hanyalah salah satu bahasa untuk menyampaikannya.


Dan mungkin, inilah yang paling sering terlupakan. Jangan buru-buru meng-hire orang yang pandai membuat konten. Hire-lah orang yang mampu membuat brand-mu layak untuk diceritakan. Karena ketika strategi lahir dari cara berpikir yang benar, konten hanyalah jejak yang ditinggalkannya.


Kami selalu senang bertemu orang-orang yang percaya bahwa marketing atau aktivitas pemasaran bukan sekadar membuat konten, tetapi merancang cerita dari konteks.


Setelah Lampu Proyektor Dimatikan (Catatan menuju layar ke 63 Tur Dalam Negeri Pehagengsi di mana pun)

Indonesia tidak kekurangan karya. Setiap hari lahir lagu baru, film baru, festival baru, komunitas baru, dan ribuan unggahan baru. Kita tidak kekurangan konten. Kita kekurangan pertemuan yang benar-benar pertemuan yang terbatas. Terbatas karena kita sudah mengupayakannya untuk fokus. Tidak ngalor-ngidul gak jelas sampai lupa waktu.

Selama beberapa tahun terakhir, melalui Tur Dalam Negeri Pehagengsi, kami berkeliling membawa film-film independen ke berbagai tempat dan kota. Sekilas, yang kami lakukan terlihat sederhana: memutar film lalu ngobrol, tak lupa jualan merch buat bensin. Semakin jauh perjalanan ini berlangsung, semakin kami sadar bahwa film bukanlah tujuan. Film hanyalah alasan geblek kami untuk ketemu orang. Dan Lampung menjadi salah satu pelajaran penting, di titik ke 62 sejak November 2022 dan jadi tur luar pulau yang saya datangi langsung setelah ke Jambi pada tahun 2023.

Di sana kami bertemu record store kecil yang tetap merawat rilisan lokal, kolektif yang membangun ruang alternatif secara mandiri, festival film yang tumbuh dari kampus DKV, hingga warung yang setiap malam berubah menjadi ruang bertukar gagasan. Pemandangan serupa kami temukan di Purwokerto, Banjarnegara, Purbalingga, Cilacap, Cirebon, dan banyak kota lain.

Semuanya memperlihatkan pola yang sama. Daerah tidak pernah kekurangan energi. Yang selama ini kurang adalah kesempatan agar energi-energi itu saling bertemu. Benar emang estetika ‘nongkrong’ nya teman-teman ruangrupa, kita banget kan ngopi berjam-jam sambil mengurai masalah (curhat colongan). Top!


Foto: Miftahul Rohman dan Wenda Arya Feriyan

Kita terlalu lama menganggap pusat sebagai sumber pengetahuan. Padahal, perjalanan ini memperlihatkan sesuatu yang berbeda: praktik-praktik paling segar justru lahir dari kota-kota yang bekerja dalam keterbatasan. Mereka membangun ruang, mengarsipkan sejarah musiknya sendiri, menyelenggarakan festival, menjaga komunitas, dan menemukan cara bertahan tanpa banyak sorotan.

Ironisnya, disaat energi itu tumbuh, terutama paska pandemi, kita hidup dalam lanskap informasi yang semakin menyempit. Bukan karena informasi sulit ditemukan. Justru karena terlalu banyak. Algoritma menghadirkan apa yang paling mampu mempertahankan perhatian kita, bukan apa yang paling penting bagi perkembangan ekosistem setempat. Kita terus bergerak dari satu unggahan ke unggahan lain, merasa selalu terhubung, padahal perlahan kehilangan hubungan dengan orang-orang yang bekerja di sekitar kita sendiri.

Akibatnya, banyak komunitas di daerah tidak pernah benar-benar kekurangan gagasan. Mereka lebih sering kekurangan kesempatan untuk membagikan gagasan itu, belajar mengkomunikasikannya, membangun jejaring, dan saling bertukar pengalaman dengan daerah lain. Ini bukan soal kemampuan individu. Ini adalah persoalan distribusi pengetahuan. Orang bilang cari ketemu offline ini kunokarena kita bisa terhubung secara online. Bodo amat! Ini cara saya melawan algoritma yang semakin menggiring kita jadi tidak bisa tenang.

Karena pengetahuan tidak bekerja seperti algoritma. Ia tidak tumbuh karena jangkauan. Ia tumbuh karena kepercayaan. Dan kepercayaan hanya lahir melalui perjumpaan. Itulah sebabnya nilai terbesar sebuah pemutaran tidak pernah berada di layar. Ia dimulai ketika lampu proyektor dimatikan. Komunitas bertukar cara mengelola arsip, membangun ruang, menyusun program, mencari dukungan, hingga mempertahankan kolektifnya. Begitu juga disiplin lain, yakin, aku!

Di situlah film berhenti menjadi tontonan dan mulai bekerja sebagai pengetahuan. Mungkin inilah pekerjaan yang paling mendesak hari ini. Bukan memproduksi lebih banyak konten. Melainkan membangun lebih banyak perjumpaan. Bukan memperbanyak panggung. Melainkan memperluas ruang belajar. Bukan menunggu daerah datang ke pusat atau sebaliknya. Melainkan mempertemukan daerah dengan daerah. Lampung tidak harus selalu belajar dari Yogyakarta, dsb. Ketika daerah mulai saling belajar, kita tidak lagi membangun ketergantungan terhadap pusat. Kita sedang membangun jaringan pengetahuan Indonesia.

Inilah yang kami bayangkan melalui Tur Dalam Negeri Pehagengsi. Bukan sekadar tur pemutaran film. Melainkan infrastruktur bergerak untuk mendistribusikan pertukaran pengetahuan antar ekosistem. Film atau disiplin seni lain hanyalah salah satu mediumnya. Percis yang saya lakukan bersama Hindra di Bioscil melalui pemutaran film pendek ke pinggiran Daerah Istimewa Yogyakarta. Yang sesungguhnya kami distribusikan adalah pengalaman, metode, keberanian, dan harapan bahwa setiap daerah memiliki sesuatu untuk dipelajari oleh daerah lain, silang saling. Karena masa depan kita tidak akan dibangun oleh daerah yang berlomba menjadi pusat. Masa depan kita dibangun ketika setiap daerah bersedia menjadi sumber pengetahuan bagi daerah lainnya.

Untuk itu, kami mengajak orang kaya setempat, pemerintah daerah, kampus, lembaga kebudayaan, perusahaan melalui CSR, media, yayasan, dan para pemilik modal untuk mulai mengubah cara berinvestasi. Jangan hanya mendanai acara. Dan jangan hanya mengejar angka kunjungan. Dukunglah perjalanan pengetahuan. Dukunglah forum lintas daerah. Dukunglah residensi, laboratorium, arsip, dan ruang-ruang diskusi yang mempertemukan manusia. Karena tidak semua dampak bisa dihitung dari jumlah penonton. Sebagian dampak lahir dari seseorang yang pulang membawa cara berpikir baru.

Foto: Dok pribadi

Sesekali, tinggalkan layar. Sebab algoritma mungkin mampu mempertemukan kita dengan informasi. Tetapi hanya perjumpaan yang mampu membangun kepercayaan. Dan hanya kepercayaan yang mampu membangun masa depan kita.

Salam,
Rifqi Mansur Maya

*Dari 26 catatan personal di 62 titik layar Tur Dalam Negeri Pehagengsi, minta dirapihin ama chatgpt cuma jadi -+ 3 lembar doang. Canggih emang teknologi. Semoga tidak mengurangi esensi curhat colongan ini, ya.

*Trims, mas Wisnu Wijaya, mas Dwi SDM, Okta Setiawan, Kevin Maulana, Faisal Amin, Agil Darmawan, Rahmat Fadhel, Dedi Amung, mas Deri Teater Satu Lampung, mas Aryo & istri dan semua teman baru. Beruntung saya bisa mengenal kalian semua.

*Untuk dokumentasi arsip kami, silahkan klik link ini atau menuju tab di sisi kanan: PPPEHAAA



Trilogi Totebag Alter Native Pehagengsi

Bersamaan dengan acara Sinema Nongkrong Malam (SINOM) di Ravacana Films semalam, kami merilis 3 totebag sekaligus; The Wavemaker of Cinema is Love, Terbatas-Terabas!, dan Pehagengsi Vertical Illution. Totebag berisi mantra untuk menguatkan keraguanmu.



Item:
  1. Pehagengsi
  2. Alter Native (SOLD)
  3. Terbatas, Terabas!

Spesifikasi:
Bahan Blacu Premium
Ukuran 40x45cm
Bonus stiker jika persediaan masih ada

Format pemesanan:

Harga: 85.000 (blm termasuk ongkos kirim)

Pengiriman menggunakan POS Indonesia

  • Nama lengkap:
  • Alamat lengkap:
  • Desain:
  • Jumlah:
  • No HP/WA aktif:
*Wilayah kota Yogyakarta tetap dikirim, ongkir hanya 8-12 ribu.


#Pehagengstore

Ini bukan sekedar merch. Ini adalah cara kami mengubah ide jadi bahan bakar. Upaya kecil-kecilan kami untuk mengumpulkan modal dari apa yang kami punya: gagasan, strategi, visual, dan sedikit keberanian untuk tetap jalan. Uang yang kamu keluarkan tidak berhenti di merchandise. Ia akan berputar jadi acara, jadi arsip, jadi eksperimen produksi pengetahuan berikutnya. Kalau kamu merasa satu frekuensi, pakai. Kalau tidak, biarkan lewat. Terima kasih sudah (atau akan) jadi bagian dari ekosistem ini.


Copyright © Cultural Marketing Studio | Powered by Blogger
Design by Viva Themes | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com