Bahwa di tengah kondisi yang meremehkan kerja kreatif, kami tetap berdiri, mengarsipkan, dan merawat kerja/karya kami dengan cara sebisanya. Seperti biasanya. Selamat Hari Film Nasional 2026
PO ditutup tanggal 7 April 2026 jam 23:59 WIB dan pengiriman mulai per tanggal 21 April 2026.
Kaos: 115.000
Tote bag: 85.000
Harga belum termasuk ongkos kirim
Ekspedisi pengiriman menggunakan POS Indonesia
Size:
S 47 X 66
M 50 x 69
L 53 x 72
XL 56 x 74
2XL 59 x 76 (+5.000)
3XL 62 x 80 (+10.000)
4XL 65 x 83 (+15.000) (hanya untuk kaos Rukii Naraya)
5XL 68 x 86 (+20.000) (hanya untuk kaos Rukii Naraya)
Pemesanan via WA 081227127473.
FORMAT PEMESANAN:
KOLONI GIGS/RUKII NARAYA/PIRING TIRBING
Nama:
Alamat lengkap (Jln, Nomor rumah, Kel/Kec/Kab, kode pos):
Size:
No Hp:
Jumlah:
*Wilayah Kota Yogyakarta tetap dikirim, ongkir hanya 8-12 ribu.
Profil Kolaborator:
Piring Tirbing adalah kelompok sinema yang berdiri sejak 2016 di Yogyakarta dan dibentuk atas kesadaran kolektif untuk mengembangkan cara kerja sinema melalui prinsip gotong royong, keterbukaan, dan kemandirian. Menempatkan sinema sebagai ruang pertemuan lintas pengalaman dan pengetahuan, serta sebagai medium yang terus berkembang melalui berbagai bentuk proses kreatif.
Kegiatan Piring Tirbing mencakup produksi film pendek dan eksperimental, riset kecil berbasis komunitas, serta pengembangan karya dalam medium publikasi, pertunjukan, dan kerja artistik. Kelompok ini juga terlibat dalam berbagai ruang percakapan seputar praktik sinema—meliputi proses kreatif, pengalaman produksi, hingga dinamika ekosistem sinema independen—baik melalui kegiatan yang mereka inisiasi maupun melalui kolaborasi dengan komunitas lain di Yogyakarta. Melalui keterlibatan ini, Piring Tirbing mengembangkan cara kerja yang reflektif dan menjadikan dialog sebagai bagian penting dari proses penciptaan.
Karakter lintas disiplin menjadi bagian dari identitas kelompok, terutama melalui kolaborasi dalam jejaring yang kuat dengan komunitas sinema, institusi pendidikan, dan kelompok seni di Yogyakarta, untuk memperluas cara sinema dapat diciptakan, dipresentasikan, dan dibaca kembali. Inisiatif-inisiatif ini menegaskan komitmen Piring Tirbing dalam merawat ekosistem pengetahuan yang tumbuh dari praktik kolektif dan pengalaman sehari-hari. IG: @piringtirbing
Rukii Naraya (Desta) adalah seorang seniman, ilustrator, fotografer, dan art director yang berbasis di Yogyakarta. Karyanya dikenal personal, penuh ekspresi, dan memiliki narasi emosional yang kuat. Ia sering menggunakan fotografi dan ilustrasi dalam karyanya, serta aktif mendokumentasikan keindahan momen melalui berbagai media. IG: @rukiinaraya
Koloni Gigs adalah media musik independen yang berfokus pada dokumentasi, promosi, dan kolaborasi di skena musik lokal. IG: @kolonigigs
Pehagengsi adalah supergrup dengan kemampuan yang 'terbatas', meyakini bahwa produksi pengetahuan adalah kunci utama, Visual-Audio salah satu disiplinnya dan Alter Native adalah semangatnya. Berfokus pada alternatif -pancaragam- bentuk komunikasi pemasaran/periklanan produk terbaikmu. Saat ini sedang memproduksi #OmnibusMusikulinerPantura sembari Tur Dalam Negeri membawa tawaran keberlanjutan sinema dengan cara pay as you wish. IG: @pehagengsi
Tutbek adalah brand yang memandang merchandise sebagai medium ekspresi: sederhana, fungsional, dan penuh cerita. Berdiri sejak 2014–2015 dengan pendekatan seni terapan yang filosofi dan ergonomis, Tutbek menghadirkan produk yang dekat dengan keseharian sekaligus relevan dengan identitas penggunanya. Sejak 2016, melalui Tutbek Faktori, kami mendampingi individu, komunitas, dan brand dalam mewujudkan merchandise impian mereka. Di luar produksi, Tutbek juga aktif membangun ruang berbagi melalui berbagai program kreatif sebagai upaya untuk tumbuh bersama dalam ekosistem seni hari ini. IG: @tutbek
PEHAGENGSI | KOLONI GIGS | RUKII NARAYA | PIRING TIRBING | TUTBEK FOR HARI FILM NASIONAL 2026 :P
Road to Cherrypop Festival 2026: Bioskop Musik Kembali Lagi!
Oleh: Balma Bahira Adzkia & Rifqi Mansur Maya
Jika film dimaknai hanya sebatas tontonan yang diproduksi secara mewah, besar-besaran, dan bertabur bintang, mungkin tidak akan pernah sampai kepada kita kabar dari “dunia lain” yang hidup berdampingan dan (justru) jauh lebih realistis dari apa yang tampak di permukaan. Tidak melulu mistis, bisa saja tentang pertemuan ide dan gagasan hebat yang sama-sama membuat merinding. Inilah spirit dari program “Bioskop Musik” garapan Pehagengsi, supergroup yang memercayai kekuatan produksi pengetahuan dengan disiplin audio-visual.
Program pemutaran film musik ini lahir dari kesadaran sederhana: ruang kecil bisa menjadi tempat lahirnya pikiran besar. Di tengah bahasa “ekosistem”, “industri”, dan angka-angka yang sering mendominasi musik hari ini, Bioskop Musik ingin mengajak kita untuk melihat musik sebagai relasi antara musisi, komunitas, ruang, dan proses yang tidak selalu ditampilkan. Film bukan sekadar tontonan, tetapi arsip hidup yang menyimpan percakapan, keraguan, kerja kolektif, dan cara kita membaca ulang skena yang kita hidupi bersama.
Bioskop Musik pertama kali digagas pada tahun 2019 sebagai aktivasi dari kegiatan Toko Pop Up Musik Podomoro yang diselenggarakan oleh Jogja Record Store Club x Kedai Kebun Forum. Sebanyak 10 film musik yang bercerita tentang biografi, kehidupan di balik layar, cerita pertunjukan, hingga pengalaman selama tur di negara lain diputar di Podomoro. From Paris to Paris: Rubah di Selatan Europe Tour (2018), Berdansa Bersama Shaggydog (2013) karya EF Tedjobaskoro, We Are Monster (2012) karya Deveri Dinarto tentang Captain Jack, 100.000 Hari (2018) tentang Jono Terbakar oleh Nihan Lanisy, Inside Your Shoes (2009) karya Ananto Prasetyo dan Bramyantoko tentang grup Risky Summerbee & The Honeythief, Moviemetalithcum (2014) tentang band rockabupaten Sangkakala karya Djati Wowok Pambudi, Dawai (2019) dokumenter bassist Sangkakala beserta penelusuran arsip sejarah kolonialisme oleh Agni Tirta & Aufa R’aisyi, Hiphopdiningrat (2010) karya Marzuki Muhammad dan Chandra Hutagaol, serta Punkasila: The First Indonesian Band in Cuba (2009) karya Siska Raharja.
Edisi kedua Bioskop Musik berlanjut pada dua tahun setelahnya. Bertempat di Kedai Kopi Kantin (Kelas Pagi Yogyakarta), screening film musik ini dikonsep sebagai kegiatan ngabuburit di tengah-tengah pandemi. Ada 12 film yang diputar dalam Bioskop Musik kedua ini: Musik Underground Jogja Part I (2001) karya Jimmy Mahardhika, Jalur Sutra (2020) oleh Allan Soebakir, Gegas #02: Jelang Rilis Album (2020) oleh Yuka Mahesa dan Farid Stevy, Eva, Kenapa Rumahmu Jauh? (2002) film musik yang dibintangi banyak personil Kornchonk Chaos karya Fredy Predi, Waditya.com, Sugeng Wahyudi, dan Edwin, Jogja Blues Forum (2018) karya Krisna Aditya, 240 BPM++ (2019) tentang dinamika musik orgen tunggal karya Bagas Oktariyan A, It Takes Two (2015) karya Triaji Jati dan Riva Pratama tentang Stars and Rabbit Asian Tour 2015, Efek Rumah Kaca Suddenly Konser (2018) oleh Allan Soebakir, Jogja Noizer (2019) oleh Christian Thomas O, Y-Rama: Yennu Ariendra dan Iramanya (2020) oleh Maria Kilapong, FSTVLST-Tanah Indah Live In Concert (2015) karya Gandos dkk, dan Fortuna (2020) tentang kedekatan DOM 65 dengan PSIM Jogja karya Fauzi Fathurrahman.
Bioskop Musik akan melanjutkan perjalanannya menuju episode ketiga yang berlangsung pada tanggal 28 Februari-7 Maret 2026. Berkolaborasi dengan Rekam Skena, lebih dari 20 submisi film/video dari area Yogyakarta, Jawa Tengah hingga lintasan Pantura akan ditayangkan pada agenda Cherry District: Road to Cherrypop 2026 setiap jam 19:00 - 21:00 WIB gratis dengan registrasi melalui s.id/BioskopMusik2026.
Selang waktu yang cukup panjang antara pelaksanaan Bioskop Musik #2 dan Bioskop Musik #3 tidak mempengaruhi khazanah pengarsipan film musik yang nyatanya semakin kaya dan beragam. Di balik tabir kesetaraan, agrikultur, spiritual pesantren, minimnya ruang publik di tempat asal, hingga kondisi politik negara didokumentasikan dengan jujur dan bernas di film-film yang bisa disaksikan di Hall Zona D (Art Gallery) GIK UGM.
Berikut adalah daftar film Bioskop Musik Pehagengsi x Rekam Skena yang akan ditayangkan:
Raung Gaung (Yogyakarta)
Berjalan di Tengah Persimpangan (Semarang)
Nasida Ria: Sun Stage (Semarang)
Detaksia: Gardenia-Heaven Tour (Banjarnegara)
We Are Monsters (Yogyakarta)
Aksi Mingguan Tour: Biggy X Jojo Nugraha (Cirebon)
Ufuk di Utara (Semarang)
Kesetaraan (Yogyakarta)
Belajar Terbang (Yogyakarta)
Women in Crowd (Yogyakarta)
Side B: Raw Version (Surakarta)
Undergroundkv: The Story of Volume Gigs (Purwokerto)
Ruang Kecil Bersama Merayakan Peristiwa (Yogyakarta)
Sintas (Indramayu)
Lakuran (Cirebon)
Nginang Karo Ngilo (Yogyakarta)
Rasah Wedi Merapal Asma Sang Maha (Yogyakarta)
Fans Club (Yogyakarta)
Nekad: Paketan Tour EP (Jakarta Barat)
Tidak Ada Party di Kabupaten Ini (Banjarnegara)
Daya Bara (Purbalingga)
Ruang Kami: Soetedja (Purwokerto)
Blocked City (Cilacap)
Kami percaya, tetap kecil bukan berarti tidak berdampak. Justru dari skala yang manusiawi, percakapan bisa lebih jujur dan pikiran bisa lebih kritis. Jika setelah menonton ada yang pulang dengan cara pandang baru tentang musik yang bukan hanya sebagai bunyi atau angka streaming, tapi sebagai praktik sosial maka ruang ini sudah bekerja.
Dan jika upaya ini belum berhasil seperti yang dibayangkan, mungkin kita memang sedang diberi waktu untuk gagal sampai habis, agar suatu hari berhasil dengan cara yang lebih sadar dengan berdiri di kaki sendiri.
Festival Komunitas Seni Media 2025 Cirebon adalah sebuah perayaan dan forum lintas medium yang membuka ruang bagi seniman, komunitas, dan publik untuk bertemu dan berdialog tentang seni dan kebudayaan hari ini. Tahun ini FKSM dilaksanakan pada 17-23 November 2025 di Kompleks Pelabuhan Cirebon dengan tema “Rentang Lawang”. Sebuah ajakan untuk menelusuri ruang peralihan antara yang terbuka dan tertutup, antara masa lalu dan masa depan, antara bunyi, gambar, dan narasi yang dihadirkan di Cirebon. FKSM 2025 Cirebon diramaikan oleh beberapa program unggulan seperti pameran seni media, pertunjukan, diskusi, lokakarya, penampilan musik, dan lainnya. Acara ini didukung oleh: Kemenkebud, Disbudpar Kota Cirebon dan PT Pelindo. Juga berkolaborasi dengan berbagai komunitas seni, ruang kolektif, dan media lokal/nasional.
Kami mengelola nilai sosial-budaya dan memproduksinya menjadi materi komunikasi dan dokumentasi melalu kanal Instagram @fksm.indonesia untuk terus menyuarakan seni media hari ini dengan cara yang rileks nan musikal. Terima kasih kepercayaan dan energi baiknya selama proses movement ini berlangsung. Jangan berhenti sampai di sini dan mari kita lanjutkan!