Indonesia tidak kekurangan karya. Setiap hari lahir lagu baru, film baru, festival baru, komunitas baru, dan ribuan unggahan baru. Kita tidak kekurangan konten. Kita kekurangan pertemuan yang benar-benar pertemuan yang terbatas. Terbatas karena kita sudah mengupayakannya untuk fokus. Tidak ngalor-ngidul gak jelas sampai lupa waktu.
Selama beberapa tahun terakhir, melalui Tur Dalam Negeri Pehagengsi, kami berkeliling membawa film-film independen ke berbagai tempat dan kota. Sekilas, yang kami lakukan terlihat sederhana: memutar film lalu ngobrol, tak lupa jualan merch buat bensin. Semakin jauh perjalanan ini berlangsung, semakin kami sadar bahwa film bukanlah tujuan. Film hanyalah alasan geblek kami untuk ketemu orang.
Dan Lampung menjadi salah satu pelajaran penting, di titik ke 62 sejak November 2022 dan jadi tur luar pulau yang saya datangi langsung setelah ke Jambi pada tahun 2023.
Di sana kami bertemu record store kecil yang tetap merawat rilisan lokal, kolektif yang membangun ruang alternatif secara mandiri, festival film yang tumbuh dari kampus DKV, hingga warung yang setiap malam berubah menjadi ruang bertukar gagasan. Pemandangan serupa kami temukan di Purwokerto, Banjarnegara, Purbalingga, Cilacap, Cirebon, dan banyak kota lain.
Semuanya memperlihatkan pola yang sama. Daerah tidak pernah kekurangan energi. Yang selama ini kurang adalah kesempatan agar energi-energi itu saling bertemu. Benar emang estetika ‘nongkrong’ nya teman-teman ruangrupa, kita banget kan ngopi berjam-jam sambil mengurai masalah (curhat colongan). Top!
Kita terlalu lama menganggap pusat sebagai sumber pengetahuan. Padahal, perjalanan ini memperlihatkan sesuatu yang berbeda: praktik-praktik paling segar justru lahir dari kota-kota yang bekerja dalam keterbatasan. Mereka membangun ruang, mengarsipkan sejarah musiknya sendiri, menyelenggarakan festival, menjaga komunitas, dan menemukan cara bertahan tanpa banyak sorotan.
Ironisnya, disaat energi itu tumbuh, terutama paska pandemi, kita hidup dalam lanskap informasi yang semakin menyempit. Bukan karena informasi sulit ditemukan. Justru karena terlalu banyak. Algoritma menghadirkan apa yang paling mampu mempertahankan perhatian kita, bukan apa yang paling penting bagi perkembangan ekosistem setempat. Kita terus bergerak dari satu unggahan ke unggahan lain, merasa selalu terhubung, padahal perlahan kehilangan hubungan dengan orang-orang yang bekerja di sekitar kita sendiri.
Akibatnya, banyak komunitas di daerah tidak pernah benar-benar kekurangan gagasan. Mereka lebih sering kekurangan kesempatan untuk membagikan gagasan itu, belajar mengkomunikasikannya, membangun jejaring, dan saling bertukar pengalaman dengan daerah lain. Ini bukan soal kemampuan individu. Ini adalah persoalan distribusi pengetahuan. Orang bilang cari ketemu offline ini kunokarena kita bisa terhubung secara online. Bodo amat! Ini cara saya melawan algoritma yang semakin menggiring kita jadi tidak bisa tenang.
Karena pengetahuan tidak bekerja seperti algoritma. Ia tidak tumbuh karena jangkauan. Ia tumbuh karena kepercayaan. Dan kepercayaan hanya lahir melalui perjumpaan. Itulah sebabnya nilai terbesar sebuah pemutaran tidak pernah berada di layar. Ia dimulai ketika lampu proyektor dimatikan. Komunitas bertukar cara mengelola arsip, membangun ruang, menyusun program, mencari dukungan, hingga mempertahankan kolektifnya. Begitu juga disiplin lain, yakin, aku!
Di situlah film berhenti menjadi tontonan dan mulai bekerja sebagai pengetahuan. Mungkin inilah pekerjaan yang paling mendesak hari ini. Bukan memproduksi lebih banyak konten. Melainkan membangun lebih banyak perjumpaan. Bukan memperbanyak panggung. Melainkan memperluas ruang belajar. Bukan menunggu daerah datang ke pusat atau sebaliknya. Melainkan mempertemukan daerah dengan daerah. Lampung tidak harus selalu belajar dari Yogyakarta, dsb. Ketika daerah mulai saling belajar, kita tidak lagi membangun ketergantungan terhadap pusat. Kita sedang membangun jaringan pengetahuan Indonesia.
Inilah yang kami bayangkan melalui Tur Dalam Negeri Pehagengsi. Bukan sekadar tur pemutaran film. Melainkan infrastruktur bergerak untuk mendistribusikan pertukaran pengetahuan antar ekosistem. Film atau disiplin seni lain hanyalah salah satu mediumnya. Percis yang saya lakukan bersama Hindra di Bioscil melalui pemutaran film pendek ke pinggiran Daerah Istimewa Yogyakarta. Yang sesungguhnya kami distribusikan adalah pengalaman, metode, keberanian, dan harapan bahwa setiap daerah memiliki sesuatu untuk dipelajari oleh daerah lain, silang saling. Karena masa depan kita tidak akan dibangun oleh daerah yang berlomba menjadi pusat. Masa depan kita dibangun ketika setiap daerah bersedia menjadi sumber pengetahuan bagi daerah lainnya.
Untuk itu, kami mengajak orang kaya setempat, pemerintah daerah, kampus, lembaga kebudayaan, perusahaan melalui CSR, media, yayasan, dan para pemilik modal untuk mulai mengubah cara berinvestasi. Jangan hanya mendanai acara. Dan jangan hanya mengejar angka kunjungan. Dukunglah perjalanan pengetahuan. Dukunglah forum lintas daerah. Dukunglah residensi, laboratorium, arsip, dan ruang-ruang diskusi yang mempertemukan manusia. Karena tidak semua dampak bisa dihitung dari jumlah penonton. Sebagian dampak lahir dari seseorang yang pulang membawa cara berpikir baru.
Sesekali, tinggalkan layar. Sebab algoritma mungkin mampu mempertemukan kita dengan informasi. Tetapi hanya perjumpaan yang mampu membangun kepercayaan. Dan hanya kepercayaan yang mampu membangun masa depan kita.
Salam,
Rifqi Mansur Maya
*Dari 26 catatan personal di 62 titik layar Tur Dalam Negeri Pehagengsi, minta dirapihin ama chatgpt cuma jadi -+ 3 lembar doang. Canggih emang teknologi. Semoga tidak mengurangi esensi curhat colongan ini, ya.
*Trims, mas Wisnu Wijaya, mas Dwi SDM, Okta Setiawan, Kevin Maulana, Faisal Amin, Agil Darmawan, Rahmat Fadhel, Dedi Amung, mas Deri Teater Satu Lampung, mas Aryo & istri dan semua teman baru. Beruntung saya bisa mengenal kalian semua.
*Untuk dokumentasi arsip kami, silahkan klik link ini atau menuju tab di sisi kanan: PPPEHAAA




0 Comments:
Post a Comment